AKSI NYATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
DEASY EKA FATIMAH
CGP Angkatan 4 Kelas 26
KABUPATEN BONDOWOSO
Fact (Peristiwa)
Latar Belakang masalah
Setelah pandemi covid 19 di Kabupaten Bondowoso
mulai mereda, ada Surat Edaran dari
Dinas Pendidikan Kabupaten yang memberlakukan lagi pembelajaran tatap
muka terbatas dengan durasi waktu pembelajaran yang singkat, dan tidak ada jam
istirahat untuk bermain di luar kelas untuk murid, karena untuk menjaga agar siswa tidak
berkerumun dan tetap menjaga protokol kesehatan karena pandemi covid masih belum pulih secara total. Efek dari
pembelajaran daring yang lama menjadi pembelajaran tatap muka terbatas dengan
memberlakukan potokol kesehatan, membuat beberapa murid di kelas saya menjadi
tidak disiplin. Sebanyak 44% murid di
kelas saya sering tidak masuk sekolah,
sehingga mereka ketinggalan materi pelajaran, tidak mengumpulkan tugas dan
tidak mengikuti ulangan/penilaian harian. Alasan mereka tidak masuk sekolah
karena letak rumah yang agak jauh, sedangkan durasi belajar di sekolah hanya
sebentar, sehingga orang tua mereka merasa enggan untuk bolak-balik ke sekolah
untuk antar jemput anaknya karena terbentur dengan jadwal mereka bekerja
sebagai petani dan mereka juga sudah merasa nyaman dengan belajar mandiri atau
daring di rumah sebagai efek dari pandemi, selain itu ada juga alasan karena
kalau belajar di sekolah harus memperhatikan kedisiplinan prokes dengan menggunakan
masker, mencucui tangan dan menjaga jarak, sehingga mereka menganngap hal itu
membuat mereka tidak nyaman dan tidak bebas karena harus menggunakan masker
selama belajar di sekolah Situasi ini meresahkan saya sebagai guru kelas VI,
karena di satu sisi saya harus menegakkan kedisiplinan dan di sisi lain saya
juga kasihan pada murid-murid yang tidak masuk tersebut karena mereka akan
ketinggalan materi pembelajaran dan nilai ulangan atau tugasnya akan kosong.
Tujuan Aksi Nyata
Tujuan
atau alasan saya melakukan aksi nyata pengambilan keputusan adalah agar saya
dapat menganalisis masalah yang mengandung paradigma dilema bagi saya dan
sekolah, dan mendorong saya agar berfikir menggunakan salah satu dari 3 prinsip
berfikir dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan dengan Sembilan (9)
langkah pengujian keputusan agar keputusan yang diambil dapat bertanggung
jawab, tepat dan berdampak positif bagi semua pihak.
Feeling (Perasaan)
Perasaan
yang saya alami sebelum mengambil keputusan adalah saya merasa resah dan
gelisah menghadapi dilema dari masalah yang saya hadapi, karena dilema tersebut
merupakan paradigma dilema keadilan melawan rasa kasihan, yang sama sama benar,
di satu sisi saya harus mengikuti peraturan dan menegakkan kedisiplinan pada semua
murid, namun di sisi lain.. saya merasa kasihan pada murid yang tidak disiplin
atau melanggar peraturan yaitu sering tidak mengikuti pembelajaran tatap muka
terbatas dan tidak bisa mengikuti pelajaran.
Perasaan
saya setelah mengambil keputusan adalah saya menjadi lebih tenang dan senang
karena dapat mengatasi dilema yang saya alami setelah melakukan analisis
masalah, menggunakan prinsip berfikir care based thinking yaitu berfikir
berbasis rasa peduli untuk mengambil keputusan dan menguji keputusan dengan 9
langkah pengujian.
Finding (Pelajaran)
Pelajaran
yang saya dapatkan dari aksi nyata yang saya lakukan tentang pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini adalah adanya keberhasilan yang didapatkan dari aksi nyata, yaitu : (1) saya dapat menganalisis masalah yg
menjadi dilema, yang merupakan dilema benar lawan benar yang sama sama
mengandung nilai kebajikan universal, masalah tersebut juga memuat salah satu
paradigma dari 4 paradigma yang ada yaitu keadilan melawan kasihan, sehingga
berdasarkan analisis tersebut saya dapat menggunakan prinsip berfikir dari 3 prinsip yang ada
yaitu prinsip care based thinking atau berfikir berdasarkan rasa peduli,
prinsip tersebut saya gunakan berdasarkan rasa peduli pada murid murid yang
melanggar peraturan yaitu malas dan tidak disiplin masuk sekolah sebagai efek
pembelajaran daring yang lama saat pandemi masih belum mereda, sehingga agar
mereka tidak ketinggalan pelajaran maka saya mengambil keputusan bahwa mereka
yang tidak datang ke sekolah tetap mengikuti pelajaran secara daring. (2) Saya
juga berhasil menguji keputusan dengan menggunakan Sembilan (9) langkah
pengujian pengambilan keputusan agar lebih menguatkan keputusan yang saya ambil
untuk bisa membawa dampak positif bagi semua pihak.
Sedangkan
kegagalan yang saya hadapi pada aksi
nyata yang saya lakukan adalah saya belum berhasil meyakinkan orang tua murid
saat sosialisasi tentang pembelajaran tatap muka terbatas sesuai surat
edaran, sehingga perlu adanya
sosialisasi lanjutan dan pendekatan dengan orang tua murid, agar orang tua
murid dapat memahami dan mendukung terlaksananya pembelajaran tatap muka
terbatas yang mulai dilakukan karena
pandemi covid sudah mereda
Berikut
ini rincian sembilan (9) langkah
pengujian pengambilan keputusan agar lebih menguatkan keputusan yang saya
ambil sebagai tindaklanjut dari pembelajaran modul 3.1 yang telah saya pelajari
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan dalam
situasi ini
Nilai Kebajikan yang
bertentangan adalah nilai Keadilan melawan Kasihan
2. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi
yang dihadapi :
- Sebanyak 44% murid tidak masuk sekolah
-
Murid tidak masuk karena letak rumah jauh, sedangkan durasi belajar di sekolah
hanya sebentar, sehingga orang tua
enggan mengantar anaknya ke skolah karena tebentur jadwal pekerjaan mereka
-
Murid tidak masuk karena merasa tidak nyaman dan kurang bebas kalau harus
memakai masker saat pembelajaran di sekolah
- Efek
pandemidan belajar daring yang lama, murid-murid menjadi lebih nyaman belajar
mandiri atau daring
3. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini :
Yang terlibat dalam situasi
ini adalah Guru, Sebagian murid, dan Orang tua
4. Pengujian benar atau salah
a. Uji
legal : ada pelanggaran hukum atau aturan, yaitu murid yang tidak mau masuk
sekolah padahal sudah ada Surat Edara tentang ketentuan pembelajaran di sekolah
dengan tatap muka terbatas
b. Uji Regulasi : Tidak ada
pelanggaran kode etik
c. Uji
intuisi : ada yang salah yaitu ketika murid-murid tidak mau masuk sekolah
karena tidak mau mengikuti prokes sebab mereka merasa tidak bebas memakai
masker dan orang tua murid yang tidakmau mengantarkan anaknnya ke seko9lah
karena alasan pekerjaan
d. Apa
yang dirasakan jika keputusan yang diambil dipublikasikan : saya merasa tidak
nyaman jika keputusan saya dipublikasikan karena berhubungan dengan siswa saya
yang tidak mau mengikutiperaturan untuk masuk sekolah
e. Keputusan
yang diambil oleh panutan atau idola saya adalah Akan mengadakan pembelajaran
daring untuk murid yang tidak mau datang ke sekolah agar tidak ketinggalan
materi pembelajaran dan bisa mengerjakan tugas atau ulangan secara daring
5.
Jika situasinya dilema etika maka paradigma yang dihadapi adalah : Keadilan
melawan Kasihan, yaitu benar jika saya mengikuti peraturan agar semua murid
mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas, namun benar juga jika saya kasihan
dan merasa peduli untuk menerapkan pembelajaran daring untuk sebagian murid
yang tidak mau masuk sekolah karena merasa tidak bebas menggunakan masker dan
orang tua yang jadwal kerjanya bertepatan dengan jadwal belajar murid yang
durasinya hanya sebntar di sekolah.
6.
prinsip yang dipakai adalah : Care based thinking (berfikir berbasis rasa
peduli)
7.
Penyelesaian kreatif atau opsi trilema adalah : mengadakan kunjungan atau home
visit dan berdiskusi dengan orang tua murid untuk memotivasi anaknya agar bisa
mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah dan agar orang tua bisa
mengatur jadwal pe kerjaan untuk bisa mengantar anaknya ke sekolah (bagi yang
rumahnya jauh)
8.
Keputusan yang akan diambil adalah : Saya akan mengadakan pembelajaran daring
untuk murid yang tidak mau datang ke sekolah sesuai diskusi dengan Kepala
sekolah agar tidak ketinggalan materi pembelajaran dan bisa mengerjakan tugas
atau ulangan secara daring, selain itu saya akan berdiskusi dengan orang tua
murid agar memotivasi anaknya untuk mengikuti prokes dan bisa mengikuti
pembelajaran tatap muka di sekolah, serta orang tua bisa mengatur jadwal antara
mengantar anak ke skolah dan pekerjaannya
9.
Refleksi : Saya tetap menjalankan keputusan yang diambil yaitu melakukan
pembelajaran daring untuk sebagian murid yang tidak mau mengikuti pembelajaran
tatap muka terbatas, karena keputusan tersebut berdampak positif bagi semua
pihak dan sudah sesuai dengan hasil diskusi bersama Kepala Sekolah , rekan
sejawat dan Orang tua murid, selain itu saya tetap menggabungkan hasil
keputusan dengan opsi trilema yaitu kerjasama dengan orang tua murid agar memotivasi
anak untuk nantinya bisa mengikuti pembelajaran di sekolah secara bertahap
Future :
Setelah
saya melakukan aksi nyata pengambilan keputusan tersebut, saya mendapatkan
lebih banyak pengetahuan, wawasan dan pengalaman dalam menganalisis suatu
masalah yang mengandung 4 paradigma dilema, mengambil keputusan dengan 3
prinsip berfikir dan menguji keputusan dengan 9 langkah pengujian keputusan. Rencana perbaikan yang akan saya lakukan
untuk pengambilan keputusan selanjutnya jika menghadapi masalah atau dilema
adalah :
1.
Mengadakan sosialisasi pada murid dan orang tua murid tentang peraturan dan
tata tertib sekolah termasuk peraturan tentang pembelajaran tatap muka selama
pandemi belum pulih total
2.Mengingatkan
kembali pada murid tentang kesepakatan kelas dan konsekuensinya untuk
meningkatkan kedisiplinan murid
Semua
pengetahuan dan pengalaman aksi nyata yang telah saya lakukan tersebut berguna
bagi saya sebagai pemimpin pembelajaran pada kegiatan selanjutnya di sekolah
atau di masa yang akan datang untuk bisa mengambil keputusan yang sesuai dengan
nilai nilai kebajikan universal dan bernilai positif bagi semua pihak serta
dapat berpihak pada murid. Karena kita sebagai guru merupakan teladan bagi
murid untuk selalu membimbing mereka dalam menguatkan potensi/kodrat yang
mereka miliki.
DOKUMENTASI
AKSI NYATA
Sosialisasi dengan
Orang Tua/Wali Murid
Sosialisasi oleh Kepala
Sekolah pada Murid yang kurang disiplin
Komentar
Posting Komentar